Sabtu, 11 Mei 2013

Pemeriksaan umum (Lingkar Lengan Atas)


Pemeriksaan umum : Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keadaan kesehatan umum penderita.
Pemeriksaan umum meliputi TB,BB, LILA
I. Tinggi badan (TB )
Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu dilakukan tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek , tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi, karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar.
            Perbandingan tinggi dan berat badan memeberi gambaran mengenai keadaan gizi pasien.
II. Berat Badan (BB)
            Berat badan adalah masa tubuh seseorang. Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang untuk pertama kali maupun yang ulangan, berat badan pasien perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang terlalu mendadak dapat merupakan tanda adanya komplikasi kehamilan yaitu pre eklamsi pada kehamilan.
       Pada kehamilan triwulan pertama berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan kadang-kadang menurun, karena berkurangnya nafsu makan. Dalam kehamilan trimester terakhir, terutama karena pertumbuhan dari janin dan uri, berat badan terus meningkat, sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah dengan kurang lebih 11 kg dibandingkan dengan sebelum hamil.
            Dalam kehamilan trimester terakhir bertambahnya berat badan kurang lebih ½ kg seminggu. Bila bertambahnya berat badan tiap minggu lebih dari ½ kg, harus diperhatikan kemungkinan adanya komplikasi kehamilan yaitu pre eklamsi.
Tujuan umum pengukuran BB, TB adalah untuk memastikan kesan terhadap pasien atau klien terutama mengenai derajat kesehatan. Pada pasien gemuk atau kurus memberi gambaran kemungkinan mengidap penyakit.
BB diukur dengan satuan Kg dan TB dengan satuan cm.

III. Lingkar Lengan Atas (LILA )
Lila ( lingkar lengan atas )Pengukuran Lila pada kelompok wanita usia subur  adalah suatu cara untuk mendeteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam untuk mengetahui adanya kelompok beresiko kekurangan energi kronis (KEK) wanita usia subur (WUS). Penilaian dan pemantapan keadaan kehamilan ibu dilaksanakan melalui KMS (Kartu Menuju Sehat ) ibu hamil yang dirasakan  pada beberapa faktor, antara lain BB, TB dan usia kehamilan.
            Namun pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek.
Tujuan Pengukuran LILA
Tujuan Umum :
            Menurunkan WUS risiko KEK dalam rangka mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak.



Tujuan Khusus  :
a.    Mengetahui risiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).
b.    Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK.
c.    Mengembangkan gagasan-gagasan baru di kalangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
d.   Meningkatkan peran petugas lintas sektor dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK.
e.    Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang menderita KEK
.
Sasaran
Langsung
Pengukuran LILA dilakukan terutama kepada WUS (15-45 tahun ) :
·         Remaja
·         Ibu hamil
·         Ibu menyusui
·         Pasangan usia subur

Tidak langsung
* Keluarga             : Ibu, bapak, anggota keluarga lainnya.
* Masyarakat          : Kader, LSM, PKK, Organisasi wanita, dsb
* Tokoh                  : Tokoh agama, tokoh masyarakat, dsb
* Pamong               : Kepala dusun, kepala desa, camat, dsb
* Petugas                : Kesehatan, BKKBN, pertanian, Guru, dsb 

Cara mengukur LILA ‘
a.    Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dan ditandai dgn sentimeter, dengan batas ambang 23,5 cm (batas antara merah dan putih)
b.    Bila tidak ada pita LILA gunakan pita sentimeter/metlin yang biasanya dipakai menjahit pakaian.
c.    Untuk mengetahui BBLR, bayi yang baru lahir (0-30 hari) dapat diukur dengan pita LILA dengan batas ambang 9,5 cm.

Batas ambang LILA WUS resiko KEK
Batas ambang LILA WUS resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm yakni di bagian merah pita LILA. Bila pengukuran LILA hasilnya kurang dari 23,5 cm diperkirakan akan menghasilkan BBLR. Pengukuran LILA dilakukan kapan saja, cukup satu kali setahun.

Tindak lanjut setelah pengukuran LILA
a.    LILA < 23,5 cm  : resiko KEK (Kekurangan Energi Kronis)
Anjuran :
Ø Makan cukup dengan pedoman umum gizi seimbang
Ø Hidup sehat
Ø Tunda kehamilan
Ø Bila hamil segera dirujuk sedini mungkin
Ø Diberi penyuluhan dan melakukan anjuran
b. LILA > 23,5 cm  : bukan resiko KEK
Anjuran :
à        Pertahankan kondisi kesehatan
à        Bila hamil, periksa kehamilan kepada petugas kesehatan

Tindakan Yang Dilakukan Pada WUS Dengan Tanda KEK
A. Upaya Dari Masyarakat
       Dapat dilakukan dengan melalui upaya perorangan atau keluarga ( dilakukan diri sendiri atau keluarga dirumah ) mupun upaya kelompok dilakukan pada anggota kelompok. Upaya tersebut antara lain :
1. Memberikan penyuluhan dan melaksanakan nasihat/anjuran bagi WUS/Remaja/PUS.
ü  Tambah makanan
Setiap kali makan satu piring lebih banyak dari biasanya dengan memperhatikan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).
ü  Istirahat lebih banyak
Untuk meningkatkan berat badan sebaiknya istirahat siang sedikitnya dua jam dalam sehari atau mengurangi kegiatan fisik yang melelahkan.
ü Minum tablet besi/tablet tambah darah
Ibu hamil setiap hari minum satu tablet tambah darah.
ü  Periksa kehamilan secara teratur
Ibu hamil sebaiknya memeriksakan kehamilannya secara teratur kepada tenaga kesehatan, agar resiko pada waktu melahirkan dapat dikurangi.
Keadaan kehamilan dipantau secara teratur dengan menggunakan KMS ibu hamil.
ü  Mengikuti KB
- Sebaiknya ibu yang baru melahirkan segera menjadi peserta KB, agar kondisi ibu dapat puluh kembali.
- Pendewasaan usia perkawinan pada remaja
-          PUS yang baru menikah agar menunda kehamilan

DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI, 1995. Pedoman Pengukuran Alat Ukur Lingkar Lengan Atas (LILA) Pada Wanita Usia Subur. Jakarta
DepKes RI, 1977. Perawatan Ibu Di Pusat Kesehatan Masyarakat. Surabaya
DepKes RI, 1991. Prosedur Perawatan Dasar, Jakarta
DepKes RI, 1995. Manajemen Kebidanan, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar